Mengenal Protocol, Masa Depan Media Sosial yang Tak Lagi Dikuasai Satu Pemilik

Bandung, Senin 05 Oktober 2026 – Jurusan Ilmu Komunikasi menyelenggarakan kegiatan Stadium General bertema “From Platform to Protocol” di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi sebagai upaya meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan perubahan sistem media sosial. Kegiatan ini menghadirkan materi yang dirancang untuk membantu mahasiswa memahami perbedaan antara media sosial berbasis platform yang tersentralisasi dan media sosial berbasis protocol yang terdesentralisasi.

Memasuki sesi pemaparan materi, Darajat menjelaskan bahwa media sosial sejak 2003 hingga kini dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu platform dan protocol. Darajat membuka pembahasan dengan menjelaskan bahwa Instagram, Facebook, X, dan TikTok termasuk platform yang bersifat sentralisasi, sehingga pemilik platform memegang kendali penuh atas data dan akun penggunanya.

“Kita itu sebenarnya hanya menyewa di dalam gedung milik platform. Jumlah pengikut, algoritma, dan data bukan milik kita, sehingga ketika akun di banned, semuanya bisa hilang begitu saja,” jelas Darajat.

Melanjutkan pembahasan, Darajat memaparkan perjalanan evolusi teknologi komunikasi, mulai dari mesin cetak Gutenberg pada 1450-an, penyiaran radio dan televisi pada 1920-an, hingga internet pada 1990-an. Ia menjelaskan bahwa Web 1.0 hanya memungkinkan pengguna membaca informasi, sedangkan Web 2.0 yang mulai berkembang sejak 2004 membuka ruang interaksi seperti komentar dan tanya jawab, tetapi tetap didominasi pemilik aplikasi dan server. Menurutnya, sistem protocol atau Web 3.0 hadir sebagai alternatif dengan prinsip desentralisasi.

“Protocol itu semacam aturan agar kita bisa berdialog. Bukan aplikasi, tetapi jalan yang bisa dilalui siapa pun. Kalau satu aplikasi bangkrut, data dan pengikut kita tetap bisa dibawa ke aplikasi lain,” ujarnya.

Masih dalam pembahasan yang sama, Darajat menjelaskan tiga jenis protocol, yaitu AT Protocol (Authenticated Transfer Protocol), Farcaster, dan ActivityPub. Ia menambahkan bahwa pada sistem protocol, pengguna dapat mengelola algoritma sendiri serta memperoleh keuntungan dari konten dan aset digital yang dimiliki melalui teknologi blockchain dan dompet digital (wallet). Darajat juga memperkenalkan Bluesky sebagai salah satu aplikasi yang berjalan di atas AT Protocol, yang digagas Jack Dorsey, pendiri Twitter, dan diwujudkan oleh Jay Graber.

“Kalau pengikut dan konten benar-benar milik kita, kita bisa mengelolanya sendiri. Generasi muda seharusnya mulai melihat peluang ini,” tambahnya.

Untuk membantu peserta memahami materi, pemateri juga memberikan analogi bahwa platform ibarat gedung tinggi yang kuncinya dipegang pemilik, sedangkan protocol ibarat jalan yang disepakati bersama dan dapat dilalui siapa saja. Pemateri juga mengaitkan pembahasan dengan pengalaman mahasiswa sehari-hari, seperti akun yang diretas atau di banned padahal telah memiliki banyak pengikut.

Kegiatan Stadium General yang dipandu oleh Zelda Felicitia Sajjad sebagai Master of Ceremony dan Dede Irawan sebagai moderator ini diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik. Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar peserta mampu memahami perubahan lanskap media sosial secara kritis dan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi secara bijak

Penulis : Maulidiyah Yuniasari Kartini

Berfokus pada berbagai topik yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari gaya hidup, pendidikan, karier, hingga informasi publik. Dalam menyusun berita, mengutamakan verifikasi sumber, ketepatan informasi, dan bahasa jurnalistik yang sederhana.